6 TAHUN KU
KAGUMI DIRIMU
Karya :
Novia Alvionica
Kriiiiiing .......... kriiiing ............. kriiiiiing ..........
Wekerku berbunyi berkali-kali. Menandakan saatnya aku harus bangun tidur.
“hoaaahh, huh mengganggu saja aku masih pengen tidur. Apalagi aku tadi mimpi indah, payah.”
Aku bergegas untuk mandi dan sarapan untuk bersiap ke sekolah.
“Noviiii .......... !” panggil Sherly.
“apa??” balas ku.
“vi, kamu udah ngerjain PR matematika?” sahut Erika.
“ada yang belum, susah banget soalnya. Palingan gak dikoreksi !? minta bantuan Nindi aja dia kan jago Matematika.” jawab ku.
“tapi Nindinya belum berangkat. Mana kurang 10 menit, gimana donk??” Kata Sherly
---5 menit kemudian---
“eh nin, udah ditunggu nih sama teman-teman buat ngajarin PR matematika buruan deh !!” ucap Sherly.
-------
Nah, sebelum itu perkenalkan namaku Novia Alvionica. Sekarang aku duduk dibangku SMA kelas X. Ini adalah cerpen pertamaku yang selesai. Sebenarnya saya ingin membuat berbagai cerpen sejak saya SMP tapi inilah yang bisa saya bagikan kepada Anda. Silahkan membaca....
Pagi yang
cerah telah menyapaku dengan sejumlah warna, mulai dari yang menyenangkan dan
tidak menyenangkan. Justru karena warna itulah yang menghiasi hari-hariku.
Karena warna itulah aku bisa hidup sampai saat ini. Dan warna itu membuat
aku...
Tiba-tiba saja terlintas dipikiranku hal yang tidak kusangka. Perasaan itu, kejadian itu teringat kembali. Memori itu teringat kembali. Memori yang seharusnya sudah aku buang jauh-jauh dan aku kubur dalam-dalam. Kenapa bisa seperti ini?? Aku yang salah. Memang salahku aku tidak mau mengubur itu dalam-dalam dan sampai sekarangpun aku masih mengharapkannya?? Mungkinkah seperti itu yang aku inginkan?? Apa yang bisa aku lakukan untuk itu?? Tak ada gunanya aku berharap pada hal yang tidak pasti. Tapi aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang. Aku harus bagaimana??
Tiba-tiba saja terlintas dipikiranku hal yang tidak kusangka. Perasaan itu, kejadian itu teringat kembali. Memori itu teringat kembali. Memori yang seharusnya sudah aku buang jauh-jauh dan aku kubur dalam-dalam. Kenapa bisa seperti ini?? Aku yang salah. Memang salahku aku tidak mau mengubur itu dalam-dalam dan sampai sekarangpun aku masih mengharapkannya?? Mungkinkah seperti itu yang aku inginkan?? Apa yang bisa aku lakukan untuk itu?? Tak ada gunanya aku berharap pada hal yang tidak pasti. Tapi aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang. Aku harus bagaimana??
Sudah 6
tahun berlalu, memori itu masih melekat didalam ingatanku. Ingatan yang
seharusnya tidak aku ingat lagi. Karena jika aku masih mengingatnya hatiku
semakin sakit. Perasaanku semakin hancur. Air mataku tidak akan pernah berhenti
menetes. Pikiranku tidak akan pernah tenang. Aku tidak akan pernah bisa untuk
membuka lembaran baru dari kehidupanku. Dan aku tidak akan pernah berani untuk
melangkah ke depan.
---6 tahun lalu---
Ketika itu aku masih duduk dibangku
SD. Lebih tepatnya hal ini terjadi ketika aku berada di kelas 3 SD. Tak ku
sangka sejak saat itu aku mengenal cinta. Lelucon yang lucu bagi anak-anak seusiaku
waktu itu. Mereka sebenarnya tidak tahu apa itu cinta, tapi pura-pura
mengetahuinya. Aku sangat tidak tertarik dengan hal semacam itu. Mana bisa aku
mempercayainya.
Sampai waktu
itu tiba. Waktu dimana aku sendiri terjebak dengan permainan cinta. Ada
seseorang yang membuat aku terlibat dalam permainan cinta itu. Dia begitu
pandai sehingga aku tertarik ke dalam permainan itu. Bagaimana itu bisa?? Aku
juga tidak tahu hal pastinya, tapi itu mengalir begitu saja. Seperti air yang
mengalir mengikuti arah arusnya. Sejak saat itu aku mulai menyukai orang itu.
Tidak tahu kenapa?? Tidak tahu apa yang istimewa darinya?? Hanya saja
perasaanku mengatakan kalau aku menyukainya.
Hari-hari aku lalui dengan perasaan gembira dan bersemangat. Karena ada dia yang selalu gembira. Tak sadar hari itu aku memperhatikannya begitu dalam. Sampai temanku menyadarinya. Dan dia membentakku. Hatiku hancur sudah. Perasaan senang ini rasanya ingin aku buang segera dan melupakannya. Seolah-olah hari ini tidak pernah terjadi. Ditambah lagi dia salah satu cowok keren di kelasku. Mana bisa aku mendapatkannya. Lagi pula banyak cewek yang suka dengannya. Aku rasa aku tida punya peluang untuk mendapatkannya. Tidak mungkin dia mau denganku, diluar sana masih banyak cewek cantik yang suka sama dia. Apalagi hari ini dia membentakku. Seakan pertanda bahwa dia tidak menginginkan aku ada didepannya. Aku sudah tahu jawabannya, jadi kuputuskan untuk tidak mengerjarnya. Dan hari itu juga aku telah membuat janji untuk tidak akan bersamanya suatu saat nanti.
Hari-hari aku lalui dengan perasaan gembira dan bersemangat. Karena ada dia yang selalu gembira. Tak sadar hari itu aku memperhatikannya begitu dalam. Sampai temanku menyadarinya. Dan dia membentakku. Hatiku hancur sudah. Perasaan senang ini rasanya ingin aku buang segera dan melupakannya. Seolah-olah hari ini tidak pernah terjadi. Ditambah lagi dia salah satu cowok keren di kelasku. Mana bisa aku mendapatkannya. Lagi pula banyak cewek yang suka dengannya. Aku rasa aku tida punya peluang untuk mendapatkannya. Tidak mungkin dia mau denganku, diluar sana masih banyak cewek cantik yang suka sama dia. Apalagi hari ini dia membentakku. Seakan pertanda bahwa dia tidak menginginkan aku ada didepannya. Aku sudah tahu jawabannya, jadi kuputuskan untuk tidak mengerjarnya. Dan hari itu juga aku telah membuat janji untuk tidak akan bersamanya suatu saat nanti.
---1 tahun kemudian---
Tidak terasa
sekarang aku sudah kelas 4. Permainan cinta itu semakin berlanjut. Tau nggak
apa yang terjadi?? Singkatnya di kelas 4 SD ini untuk pertama kalinya aku punya
pacar. Aku menemukan cowok yang nggak terlalu baik sikapnya ke aku, tapi aku
nyaman kalau dekat dia. Sayangnya, itu nggak berlangsung lama. Hubunganku
dengannya putus nyambung putus nyambung. Jadi gak berjalan lancar. Walaupun
begitu masa kami pacaran cukup bisa dibilang romantis lah ya.. soalnya untuk
komunikasi kami menggunakan surat yang ditulis tangan kami sendiri dan
meletakkannya didalam tas kami tanpa sepengetahuan dari penerima surat itu.
Hubungan
kami benar-benar tidak dapat dipertahankan lagi. Dan nggak jelas mau dibawa
kemana. Iya sudah akhiri saja deh... diwaktu itu pula ada isu kalau dia (cowok
yang aku sukai di kelas 3) mempunyai perasaan yang sama denganku. Mana mungkin
aku percaya dengan hal seperti itu. Secara cowok itu keren dan ganteng ditambah
banyak cewek yang menyukainya. Jadi, aku rasa itu nggak mungkin. Tapi senang
juga sih, walaupun cuma isu... Hanya saja jika isu itu memang benar tetap saja
aku sudah berjanji untuk tidak akan bersamanya. Jadi, nggak akan berpengaruh
deh...
Itulah anggapanku dengan adanya isu tersebut. Tidak seperti dugaanku. Isu itu semakin kuat sampai aku duduk di kelas 6 SD. Karena isu itu, dia nggak berani ketemu sama aku. Walaupun kita saling mengetahui, aku pura-pura nggak tahu kalau dia ada. Aku benar-benar naif. Bagaimana aku biarkan hal semacam itu terjadi?? Sementara aku sendiri masih menyukainya sampai saat ini (kelas 6). Sebutan apa yang cocok untuk diriku?? Aku sendiri benar-benar bingung dengan sikap kami berdua, apalagi aku.
Waktu terus berjalan. Tidak terasa kelulusan sudah didepan mata. Kami semua bisa menggapai itu dengan usaha kami. Setelah upacara kelulusan itu hubungan antar teman begitu erat dan dekat. Diluar dugaan.
Itulah anggapanku dengan adanya isu tersebut. Tidak seperti dugaanku. Isu itu semakin kuat sampai aku duduk di kelas 6 SD. Karena isu itu, dia nggak berani ketemu sama aku. Walaupun kita saling mengetahui, aku pura-pura nggak tahu kalau dia ada. Aku benar-benar naif. Bagaimana aku biarkan hal semacam itu terjadi?? Sementara aku sendiri masih menyukainya sampai saat ini (kelas 6). Sebutan apa yang cocok untuk diriku?? Aku sendiri benar-benar bingung dengan sikap kami berdua, apalagi aku.
Waktu terus berjalan. Tidak terasa kelulusan sudah didepan mata. Kami semua bisa menggapai itu dengan usaha kami. Setelah upacara kelulusan itu hubungan antar teman begitu erat dan dekat. Diluar dugaan.
---ponselku berdering---
Pesan masuk?? Dari siapa??
Ini nomornya Novi kan?
Itu pesan yang aku dapat.
Ya. Ini cpa iya ??
Singkat saja jawabanku.
Aku terkejut saat membaca sms darinya. Dari mana dia tahu nomorku??
---beberapa menit kemudian---
Vi, kamu mau nggak jadi pacarku??
Aku sungguh terkejut membaca pesan itu, tidak tahu harus berbuat apa??
Maaf, aku nggak bisa jadi pacar kamu.
Aku udah janji aku nggak bakalan bersama dengan kamu.
Kita bisa jadi teman koc...
Aku do’ain kamu bakalan nemuin cewek yang lebih segala-galanya dari pada aku.
Itulah jawabanku.
Tetap saja aku tidak menyangka hari itu benar-benar tiba dan aku tidak bisa bersamanya karena janjiku itu?? Huh, sungguh menyesalnya hati ini. Mengucapkan janji yang seharusnya tidak usah aku lakukan. Hal bodoh yang sampai sekarang aku ingat. Aku menyesal dengan janjiku itu. Mungkin waktu itu aku bisa bersamanya. Hal yang aku inginkan sejak dulu dan aku hilangkan dengan mudahnya karena janji bodohku itu. Yaah tapi itulah kenyataannya.
---3 tahun kemudian---
“Novi, tadi teman kamu datang, ngasih undangan ini !”
“siapa ma??”
“undangannya ada di atas meja !”
“REUNI PERTAMA ANGKATAN 99 SD 3 Harapan”
HARI/TANGGAL : SENIN, 7 MEI 2013
TEMPAT : AULA SD 3 Harapan
PUKUL : 09.00-Selesai
---Hari reuni---
“Novi .......” sapa Anik.
“oh hai, gimana kabarmu??” jawabku.
“baik, ciyee yang jadi pacarnya pangeran idaman??”
“eh?? Nggak kok, kamu mungkin... kan dia udah aku kasih ke kamu... :p”
“aku nggak suka dia :p”
Seperti dugaanku aku bakalan ketemu dia di reuni ini. Mau gimana lagi coba. Habisnya aku kangen sama teman lama sih. Kalau cuma dia cuek ah...
--------
Penantianku dan perasaanku itu
berlanjut hingga aku masuk SMP. Jujur saja, aku baru bisa melupakannya ketika
aku duduk di kelas IX SMP. Itupun karena sahabat-sahabatku (Erika, Nindi,
Sherly) dan kesibukanku selama SMP. Jika tidak, mungkin aku tidak akan
melupakannya sampai sekarang?? Tetap saja, kenangan tentang dia masih melekat
erat dimemoriku sampai saat ini.
Aku bersyukur bisa melupakannya walaupun hanya rasa suka yang bisa hilang. Semua kenangan tentang dia masih tersimpan rapi dimemoriku. Aku tidak berniat untuk membuangnya bahkan menghapusnya. Aku rasa itu tidak perlu. Justru aku merasa senang karena dia jadi bagian terindah dalam hidupku. Memang benar cinta itu tidak harus saling memiliki. Cukup dengan melihat dia bahagia dengan orang lain, akupun ikut bahagia. Aku yakin suatu saat aku akan menemukan cinta sejati itu. Walaupun bukan dia cinta sejatiku.
Aku bersyukur bisa melupakannya walaupun hanya rasa suka yang bisa hilang. Semua kenangan tentang dia masih tersimpan rapi dimemoriku. Aku tidak berniat untuk membuangnya bahkan menghapusnya. Aku rasa itu tidak perlu. Justru aku merasa senang karena dia jadi bagian terindah dalam hidupku. Memang benar cinta itu tidak harus saling memiliki. Cukup dengan melihat dia bahagia dengan orang lain, akupun ikut bahagia. Aku yakin suatu saat aku akan menemukan cinta sejati itu. Walaupun bukan dia cinta sejatiku.
---SELESAI---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar